menjalani cinta yang suci
Entri Populer
-
Akhir dari revolusi Seiring dengan berakhirnya Pemilu dan telah terpilihnya presiden yang baru beserta seluruh kabinetnya, tampaknya revolu...
-
KASIH SAYANG adalah esensi dari cinta yang murni. Idealnya adalah keseimbangan dalam memberi dan menerima kasih sayang. Belajarlah untuk men...
-
Nafsu mengatakan perempuan itu cantik atas dasar rupanya. Akal mengatakan perempuan itu cantik atas dasar ilmu dan kepintarannya. Dan hati m...
-
Tradisi retorik dalam dunia patriarkal menunjukkan bahwa retorika di depan publik pada mulanya hanyalah dilakukan oleh laki-laki. Aristotele...
-
Yakin dech, bahkan berani tarohan kalo' cinta ngga' pernah pandang strata, bahkan kita suka lupakan logika. Buat pacar, sahabat dan ...
-
Al-‘aqliyyuun yakin bahwa esensi manusia adalah “keberpikirannya”. Bagi mereka semakin sempurna seorang manusia, semakin sempurna pula pemik...
-
membalas kebaikan dengan kejahatan merupakan pelangi yang serendah - rendahya. membalas kejahatan dengan kejahatan bukanlah prikemanusiaan. ...
-
Apabila berbicara masalah pemimpin, yang tergambar dalam benak adalah seorang presiden, gubernur, pimpinan organisasi formal maupun non for...
Sabtu, 15 Desember 2012
KEPEMIMPINAN
Apabila berbicara masalah pemimpin, yang tergambar dalam benak adalah seorang presiden, gubernur, pimpinan organisasi formal maupun non formal. Pemimpin ialah seseorang yang memimpin dan mengarahkan orang lain sehingga orang-orang yang masuk dalam institusinya akan mengikutinya. Adanya kerjasama antara pemimpin dengan yang dipimpin menjadi keniscayaan, sehingga pemimpin menjadi efektif.
Adanya partisipasi aktif segenap anggota institusi menunjukkan berjalannya kepemimpinan yang aktif. Hal ini perlu adanya langkah-langkah konkrit untuk mengaktifkan seluruh institusi. Maka timbullah apa yang disebut dengan pemimpin yang sukses atau timbullah pemimpin yang efektif.
Teori Kepemimpinan
1. Pengertian
Kepemimpinan merupakan suatu wacana publik yang sangat menarik untuk selalu dikaji dan dibahas dalam tataran ilmiah. Berbagai hasil penelitian tentang kepemimpinan telah banyak didapat yang secara teoritikal menjadi acuan ilmiah dan selanjutnya diaplikasikan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berorganisasi; baik dalam organisasi kenegaraan, politik, perusahaan, keagamaan, pendidikan dan bentuk organisasi lainnya.
Secara konseptual para ilmuan bervariasi dalam mendefinisikan kepemimpinan, baik pengertian kepemimpinan secara umum maupun pengertian kepemimpinan secara khusus pada organisasi tertentu, walaupun intinya merupakan suatu proses dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Diantara definisi kepemimpinan adalah sebagai berikut;
a. Kepemimpin secara umum
1. Menurut John D. Pfiffner & Robert Presthus, “Leadership is the art of coordinating and motivating individuals and group to achieve desired ends.” (Kepemimpinan adalah seni mengkoordinasi dan memotivasi individu-individu serta kelompok-kelompok untuk mencapai tujuan yang diinginkan)
2. Menurut Martin J. Gannon, “Leadership is the ability of a superior to influence the behavior of subordinates; one of the behavioral in organization.” (Kepemimpinan adalah kemampuan seorang atasan mempengaruhi perilaku bawahannya; salah satu prilaku dalam organisasi).
Dengan demikian, maka inti dari pengertian kepemimpinan tersebut di atas bisa disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan dalam proses mempengaruhi, mengkoordinasikan, menggerakkan segala komponen dalam suatu organisasi dalam upaya efektivitas dan efesiensi untuk pencapaian tujuan organisasi.
Teori Kepemimpinan
Secara teoritikal kepemimpinan, para pakar peneliti memiliki beberapa pandangan tentang pendekatan atau teori kepemimpinan. Gary Yukl dalam bukunya yang berjudul Leadership in Oraganization menjelaskan bahwa ada lima pendekatan (teori) kepemimpinan.
“Therefore, it is helpful to classify the theories and empirical research into the following five approaches: yaitu meliputi;
a. Trait approach, (pendekatan ciri/ sifat) bahwa keberhasilan atau kegagalan seorang pemimpin banyak dipengaruhi oleh sifat-sifat seorang pemimpin karena pembawaan atau keturunan. Pemimpin adalah dilahirkan bukan dibuat, artinya pemimpin adalah mewarisinya.
b. Behavior approach, (pendekatan perilaku) bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan oleh sikap dan gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh pemimpin yang bersangkutan. Pendekatan perilaku inilah yang selanjutnya melahirkan berbagai teori tentang tipe atau gaya kepemimpinan.
c. Power- influence approach () bahwa kekuasaan tidak hanya berada pada pimpinan saja tetapi juga berada pada anggotanya, sehingga efektivitas organisasi akan saling mempengaruhi antara pemimpin dan anggotanya.
d. Situational approach () bahwa keberhasilan kepemimpinan suatu organisasi tidak hanya bergantung pada perilaku dan sifat-sifat pemimpin saja. Tetapi juga faktor masalah yang berbeda, lingkungan, semangat dan watak bawahan, situasi yang semuanya berbeda, juga disebut pendekatan kontingensi (kemungkinan)
e. Integrative approach. () integrasi dari empat pendekatan sebelumnya yang meliputi pendekatan ciri, perilaku, pengaruh kekuasaan, dan situasional.
Tipologi Kepemimpinan
Pemimpin itu mempunyai sifat, kebiasaan, temperamen, watak dan kepribadian sendiri yang unik khas; sehingga tingkah laku dan gayanyalah yang membedakan dirinya dari orang lain. Gaya atau style hidupnya ini pasti akan mewarnai perilaku dan tipe kepemimpinannya, sehingga muncullah beberapa tipe kepemimpinan. Sondang P. Siagian membagi dengan 5 tipe kemimpinan:
a. Tipe kepemimpinan Otokratik; ia akan menonjolkan ke-akuannya dengan kurang menghargai anggota, berorientasi pada penyelesaian tugas, mengabaikan peranan anggota dalam pengambilan keputusan.
b. Tipe Kepemimpinan Paternalistik; kuatnya ikatan primordial, exented family system, kehidupan masyarakat yang komunalistik. Pemimpin berperan sebagai bapak yang bersifat melindungi dan memberi petunjuk, dan anggota menerima segala tugas dengan penuh kepatuhan.
c. Tipe Kepemimpinan Kharismatik orang cenderung mengatakan bahwa ada orang-orang tertentu yang memiliki “kekuatan ajaib” yang tidak mungkin dijelaskan secara ilmiah
d. Tipe Kepemimpinan Laissez Faire; Ia memiliki sikap yang permisif yang memperlakukan anggota organisasi sebagai rekan sekerja, keberadaan dia karena adanya struktur dan hirarki organisasi.
e. Tipe kepemimpinan Demokratik. biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen sehingga bergerak sebagai suatu totalitas.
Kualifikasi Seorang Pemimpin
Seorang pemimpin memiliki tanggungjawab penuh terhadap yang dipimpinnya. Disamping itu pemimpin sebagi sosok suri tauladan yang menjadi rujukan segenap anggotanya. Tentunya ia harus memiliki nilai lebih ketimbang anggota organisasinya. Kualitas yang dimiliki seorang pemimpin berupa kualifikasi yang mestinya harus dimiliki sesuai dengan situasi dan kondisinya. Sehubungan dengan kualifikasi tersebut ada beberapa pendapat dari ilmuan manajemen dan kepemimpinan.
Menurut Charles Bernard, kepemimpinan mempunyai dua aspek. ”Pertama, kelebihan individual teknik kepemimpinan, yaitu mempunyai kondisi fisik, keterampilan yang tinggi, menguasai teknologi, mempunyai persepsi yang tepat, pengetahuan luas, ingatan yang baik, imajinasi yang menyakinkan akan mampu memimpin bawahan. Kedua, kesunggulan pribadi dalam ketegasan, keuletan, kesadaran, dan keberhasilan. Adanya kelebihan individu saja dianggap belum cukup menjadikan seorang pemimpin yang baik, sehingga masih perlu pendukung aspek-aspek yang lain.
Menurut Bedjo Siswanto bahwa kualifikasi kepemimpinan meliputi hal-hal berikut; 1). Watak dan kepribadian terpuji. 2). Prakarsa yang tinggi. 3). Hasyrat melayani bawahan. 4). Sadar dan paham kondisi lingkungan. 5). Intenlegensi yang tinggi. 6). Berorientasi kemasa depan. 7). Sikap terbuka dan lugas. 8). Widiasuara yang efektif.
Seorang pemimpin yang bisa memanej dan mengatur jalannya institusi tentunya harus memiliki kualifikasi yang baik. Kualifikasi tersebut sebagai merupakan upaya-upaya menjadikan pemimpin yang bisa mengemban tugasnya dengan baik, sehingga ia kan menjadi pemimpin yang efektif.
Pemimpin yang Efektif
Efektif kepemimpinan banyak bergantung pada beberapa variabel, seperti kultur organisasi, sifat dari tugas dan aktivitas kerja, dan nilai serta pengalaman dalam memimpin. ”Yang mempengaruhi efektifitas kepemimpinan mencakup kepribadian, pengalaman, masa lampau, dan harapan dari manajer yang bersangkutan; harapan dan perilaku bawahan; persyaratan tugas; kultur dan kebijakan organisasi; dan harapan serta perilaku rekan bekerja.”
Kepemimpinan yang sukses ataukah kepemimpinan yang efektif? Ada perbedaan signifikan antara pemimpin yang sukses dengan pemimpin yang efektif. ”kepemimpinan yang sukses berusaha bagaimana menguasai para bawahan secara individu maupun kelompok, sebaliknya kepemimpinan yang efektif melukiskan kondisi internal atau predisposisi bawahan secara individu atau kelompok, dan oleh karena itu sikap dan prilaku tersebut alamiah.
Kepemimpinan yang sukses bisa saja karena menggunakan kinerjanya secara struktural. Sedangkan pemimpin yang efektif ia bekerja secara humanisme walaupun tidak melalikan strukturalnya. Sehingga kepemimpinan yang efektif akan disenangi oleh para anggotanya, sedangkan pemimpin yang sukses belum tentu disenanginya. Dalam sebuah riset dihasilkan bahwa ”pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang anggota kelompoknya merasa bahwa kebutuhan mereka terpenuhi dan pemimpin sendiri merasa bahwa kebutuhannya juga telah terpuaskan.
Tentunya tidak serta merta hasil riset di atas dianggap paling benar adanya, namun adanya kombinasi antara hubungan struktural dan humanisme akan menghasilkan kepemimpinan yang lebih efektif.
Penutup
Kepemimpinan dalam sebuah institusi dianggap sukses atau efektif, tergantung dari sisi mana menilainya. Apabila dilihat dari aspek produktifitas, maka kesuksesan bisa dilihat dari apa yang telah dihasilkan. Jika nilai sukses dan efektif dilihat dari sisi kenyamanan dalam institusinya maka aspek humanisme menjadi keniscayaan, dan apabila kesuksesan di ukur dengan berjalannya organisasi sesuai rencana yang telah dibuat , maka kepemimpinan struktural menjadi pilihan yang tepat.
Dengan demikian nampaknya kepemimpinan yang diharapkan efektif ialah apabila dari beberapa aspek di atas menjadi langkah-langkah yang integral baik dari aspek humanisme, aspek struktural, dan produktifitasnya. Namun hal tersebut akan relatif lebih efektif lagi kalau segala tatanan tersebut semua mengarah kepada tatanan relegius, sehingga tujuan akhirnya hanya semata-mata karena Allah SWT. (وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون). Wallahu A’lam. (sumber : hefniy.wordpress.com)
Sabtu, 05 Februari 2011
RETORIKA DAN PEREMPUAN
Tradisi retorik dalam dunia patriarkal menunjukkan bahwa retorika di depan publik pada mulanya hanyalah dilakukan oleh laki-laki. Aristoteles, seorang folosof sebelum abad Masehi misalnya, sangat menekankan perlunya studi retorika bagi laki-laki. Studi retorika, menurut Aristoteles pada dasarnya adalah cara mengemukakan pendapat di depan umum secara persuasif. Oleh sebab itu retorik juga dikaitkan dengan debat karena dalam beretorik orang harus mampu meyakinkan orang lain akan kebenaran yang diyakininya. Orang tersebut juga harus bisa menunjukkan keunggulan dirinya dan gagasan-gagasannya dibandingkan orang lain. Karena sifatnya yang persuasif dan agresif retorik dinilai lebih tepat dikerjakan oleh orang laki-laki dan memang hanya diajarkan pada orang laki saja. Maklum pada zamannya, perempuan hampir tidak memiliki akses ke dunia luar selain lingkungan rumahnya sendiri. Perempuan dinilai tidak lebih dari keberadaannya secara biologis sebagai yang melahirkan anak dan merawat anak-anak serta rumahtangganya. Plutarch, walaupun menganjurkan agar pada perempuan diajarkan matematika, filsafat dan astronomi, anjurannya tidak lebih dari sekedar mengajarkan unsur moralitas, bukan bertujuan mengajarkan perempuan untuk bisa bernalar dan menggunakan kemampuannya berdebat atau berargumentasi di luar rumah.
Beberapa penulis perempuan juga berpendapat bahwa tradisi retorika dalam sejarah umat manusia memang bukan merupakan tradisi kaum perempuan. Patricia Parker misalnya mengatakan bahwa sejarah menunjukkan bahwa retorika adalah satu-satunya ketrampilan yang tidak pernah diajarkan pada perempuan. Parker juga mengutip tulisan Leonardo Bruni dalam De Studies et Litteris yang merupakan buku teks humaniora yang mengatakan bahwa kalaupun studi humaniora itu sebaiknya diajarkan pada laki-laki maupun perempuan, ia menambahkan suatu larangan bagi anak-anak perempuan untuk belajar retorik yang menurutnya retorik ada diluar wilayah kehidupan perempuan.
Hannah Arendt dalam tulisannya The Human Condition, bahkan mengatakan bahwa beberapa kegiatan manusia memiliki kedudukannya yang dianggap layak oleh masyarakat umum. Ia kemudian menunjukkan bahwa perempuan dan budak-budak tidak selayaknya dipertontonkan di muka umum karena hidup mereka sepenuhnya harus diabdikan untuk kegiatan yang sifatnya biologis. Fungsi biologis perempuan inilah yang selama ini sering menjadi acuan bagi kegiatan-kegiatan lain sehingga perempuan secara 'naluri' dibentuk dan dilestarikan sesuai dengan fungsinya ini.
Kendatipun dalam berbagai disiplin ilmu banyak kelompok patriarki telah menumbuhkan persepsi bahwa perempuan paling tepat melakukan kegiatannya sesuai dengan fungsi biologisnya, disiplin ilmu retorik termasuk yang paling efektif diterapkan dalam memperkuat persepsi masyarakat tentang perempuan. Akibatnya tradisi retorika telah menjadi suatu sarana ampuh bagi kelompok yang dominan, dalam hal ini biasanya kaum laki-laki, untuk menumbuhkan persepsi bahwa perempuan hanya mampu menunaikan tugas biologisnya saja.
Persepsi yang demikian tentang perempuan telah menumbuhkan kepercayaan masyarakat bahwa perempuan tidak akan mampu bergiat secara efektif dalam kancah publik / umum. Dengan begitu pula perempuan menjadi semakin sulit bergerak dalam kegiatan politik yang banyak memerlukan kemampuan beretorik yang sifatnya persuasif dan agresif, misalnya dalam berdebat dan dalam mengemukakan pendapat di depan umum. Hal ini diperkuat pula dengan adanya pengamatan bahwa laki-laki biasa dibesarkan dalam lingkungan yang kompetitif seperti dalam bermain dan berolahraga. Sebaliknya perempuan terbiasa berinteraksi dalam kelompok kecil yang menekankan kerja sama daripada berkompetisi.
Dorothy Cantor and Toni Bernay yang menulis buku Women in Power mewawancarai sejumlah perempuan yang berhasil dalam karir politiknya di Amerika Serikat. Mereka menyebutkan misalnya bagaimana seorang kandidat wakil Presiden perempuan Geraldine Ferraro yang juga harus berdebat di muka umum dengan kandidat dari partai lain, waktu itu George Bush. Geraldine mengatakan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada kandidat perempuan lebih menekankan pada segi kemampuannya sebagai seorang perempuan untuk menangani masalah politik. Ketika ia mengatakan bahwa ia lebih memilih persetujuan damai daripada perang, ia dicap penakut dan tidak pantas untuk bisa jadi Presiden. Pertanyaan lebih sering memojokkan dirinya dan menyiratkan keraguan publik atas kemampuannya memimpin daripada mempertanyakan gagasan-gagasan yang dilontarkan. Ia juga mendapat penilaian ganda dibanding kandidat laki-laki. Kandidat perempuan yang mengumbar perasaan dicap lemah, sedang kandidat laki yang menunjukkan perilaku yang sama dipuji karena dianggap mampu memahami perasaan orang lain. Masyarakat Amerika nampaknya lebih cocok apabila perempuan dipandang sebagai sosok yang berpengaruh atas laki-laki sejauh laki-laki, bukan perempuan, yang berada di depan dalam mencapai tujuan politik. Mereka mencontohkan foto pengukuhan Presiden yang seringkali ditunjukkan bagaimana sang istri memandang suaminya yang menang dengan bangga, sedang si suami memandang ke depan dengan tegar. Namun demikian kesan bangga dan tegar ini bisa berubah ketika sang calon adalah perempuan dan suaminya memandang ke arahnya. Umum menilai foto ini sebagai sosok perempuan perkasa yang mendominasi suaminya.
Amerika memang bukan Indonesia. Namun debat calon Presiden yang akhir-akhir ini dibicarakan umum mau tidak mau harus diakui sebagai mencontoh apa yang dilakukan di negara Barat seperti di Amerika Serikat. Pro dan kontra adanya debat calon Presiden sudah banyak dilontarkan terutama dalam kaitan penolakkan calon Presiden PDI Perjuangan, Megawati Sukarnoputri, untuk ikut serta dalam debat ini. Bagi mereka yang mengharapkan hadirnya Megawati dalam debat ini menyatakan penyesalannya karena mereka berharap Megawati dapat menepis keragu-raguan publik atas kemampuannya menjadi pemimpin. Megawati diharapkan mampu mensejajarkan dirinya dengan kebanyakan calon laki-laki dalam beretorika yang persuasif dan agresif. Kemampuan berdebat telah menjadi standar penilaian masyarakat yang muncul pada mulanya dalam budaya yang bersifat patriarkal ini.
Beberapa feminis berpendapat bahwa diterimanya tradisi retorik yang demikian akan sama halnya dengan diterimanya budaya yang patriarkal. Namun demikian perkembangan zaman nampaknya menunjukkan diperlukannya suatu konsep baru dalam beretorika yang bisa diterima baik oleh laki-laki maupun perempuan. Penolakan beretorika dengan alasan ketidaksesuaian budaya hanya akan membuat kita mandeg dalam memikirkan suatu solusi yang workable, yang bisa diterima oleh kedua pihak. Masyarakat secara umum dan para pakar komunikasi perlu mencari jalan untuk merekonstruksi persepsi tradisi retorik di mana baik laki-laki maupun perempuan mampu secara efektif memprosesnya.
Beberapa penulis perempuan juga berpendapat bahwa tradisi retorika dalam sejarah umat manusia memang bukan merupakan tradisi kaum perempuan. Patricia Parker misalnya mengatakan bahwa sejarah menunjukkan bahwa retorika adalah satu-satunya ketrampilan yang tidak pernah diajarkan pada perempuan. Parker juga mengutip tulisan Leonardo Bruni dalam De Studies et Litteris yang merupakan buku teks humaniora yang mengatakan bahwa kalaupun studi humaniora itu sebaiknya diajarkan pada laki-laki maupun perempuan, ia menambahkan suatu larangan bagi anak-anak perempuan untuk belajar retorik yang menurutnya retorik ada diluar wilayah kehidupan perempuan.
Hannah Arendt dalam tulisannya The Human Condition, bahkan mengatakan bahwa beberapa kegiatan manusia memiliki kedudukannya yang dianggap layak oleh masyarakat umum. Ia kemudian menunjukkan bahwa perempuan dan budak-budak tidak selayaknya dipertontonkan di muka umum karena hidup mereka sepenuhnya harus diabdikan untuk kegiatan yang sifatnya biologis. Fungsi biologis perempuan inilah yang selama ini sering menjadi acuan bagi kegiatan-kegiatan lain sehingga perempuan secara 'naluri' dibentuk dan dilestarikan sesuai dengan fungsinya ini.
Kendatipun dalam berbagai disiplin ilmu banyak kelompok patriarki telah menumbuhkan persepsi bahwa perempuan paling tepat melakukan kegiatannya sesuai dengan fungsi biologisnya, disiplin ilmu retorik termasuk yang paling efektif diterapkan dalam memperkuat persepsi masyarakat tentang perempuan. Akibatnya tradisi retorika telah menjadi suatu sarana ampuh bagi kelompok yang dominan, dalam hal ini biasanya kaum laki-laki, untuk menumbuhkan persepsi bahwa perempuan hanya mampu menunaikan tugas biologisnya saja.
Persepsi yang demikian tentang perempuan telah menumbuhkan kepercayaan masyarakat bahwa perempuan tidak akan mampu bergiat secara efektif dalam kancah publik / umum. Dengan begitu pula perempuan menjadi semakin sulit bergerak dalam kegiatan politik yang banyak memerlukan kemampuan beretorik yang sifatnya persuasif dan agresif, misalnya dalam berdebat dan dalam mengemukakan pendapat di depan umum. Hal ini diperkuat pula dengan adanya pengamatan bahwa laki-laki biasa dibesarkan dalam lingkungan yang kompetitif seperti dalam bermain dan berolahraga. Sebaliknya perempuan terbiasa berinteraksi dalam kelompok kecil yang menekankan kerja sama daripada berkompetisi.
Dorothy Cantor and Toni Bernay yang menulis buku Women in Power mewawancarai sejumlah perempuan yang berhasil dalam karir politiknya di Amerika Serikat. Mereka menyebutkan misalnya bagaimana seorang kandidat wakil Presiden perempuan Geraldine Ferraro yang juga harus berdebat di muka umum dengan kandidat dari partai lain, waktu itu George Bush. Geraldine mengatakan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada kandidat perempuan lebih menekankan pada segi kemampuannya sebagai seorang perempuan untuk menangani masalah politik. Ketika ia mengatakan bahwa ia lebih memilih persetujuan damai daripada perang, ia dicap penakut dan tidak pantas untuk bisa jadi Presiden. Pertanyaan lebih sering memojokkan dirinya dan menyiratkan keraguan publik atas kemampuannya memimpin daripada mempertanyakan gagasan-gagasan yang dilontarkan. Ia juga mendapat penilaian ganda dibanding kandidat laki-laki. Kandidat perempuan yang mengumbar perasaan dicap lemah, sedang kandidat laki yang menunjukkan perilaku yang sama dipuji karena dianggap mampu memahami perasaan orang lain. Masyarakat Amerika nampaknya lebih cocok apabila perempuan dipandang sebagai sosok yang berpengaruh atas laki-laki sejauh laki-laki, bukan perempuan, yang berada di depan dalam mencapai tujuan politik. Mereka mencontohkan foto pengukuhan Presiden yang seringkali ditunjukkan bagaimana sang istri memandang suaminya yang menang dengan bangga, sedang si suami memandang ke depan dengan tegar. Namun demikian kesan bangga dan tegar ini bisa berubah ketika sang calon adalah perempuan dan suaminya memandang ke arahnya. Umum menilai foto ini sebagai sosok perempuan perkasa yang mendominasi suaminya.
Amerika memang bukan Indonesia. Namun debat calon Presiden yang akhir-akhir ini dibicarakan umum mau tidak mau harus diakui sebagai mencontoh apa yang dilakukan di negara Barat seperti di Amerika Serikat. Pro dan kontra adanya debat calon Presiden sudah banyak dilontarkan terutama dalam kaitan penolakkan calon Presiden PDI Perjuangan, Megawati Sukarnoputri, untuk ikut serta dalam debat ini. Bagi mereka yang mengharapkan hadirnya Megawati dalam debat ini menyatakan penyesalannya karena mereka berharap Megawati dapat menepis keragu-raguan publik atas kemampuannya menjadi pemimpin. Megawati diharapkan mampu mensejajarkan dirinya dengan kebanyakan calon laki-laki dalam beretorika yang persuasif dan agresif. Kemampuan berdebat telah menjadi standar penilaian masyarakat yang muncul pada mulanya dalam budaya yang bersifat patriarkal ini.
Beberapa feminis berpendapat bahwa diterimanya tradisi retorik yang demikian akan sama halnya dengan diterimanya budaya yang patriarkal. Namun demikian perkembangan zaman nampaknya menunjukkan diperlukannya suatu konsep baru dalam beretorika yang bisa diterima baik oleh laki-laki maupun perempuan. Penolakan beretorika dengan alasan ketidaksesuaian budaya hanya akan membuat kita mandeg dalam memikirkan suatu solusi yang workable, yang bisa diterima oleh kedua pihak. Masyarakat secara umum dan para pakar komunikasi perlu mencari jalan untuk merekonstruksi persepsi tradisi retorik di mana baik laki-laki maupun perempuan mampu secara efektif memprosesnya.
Antara Cinta, Iman dan Akal
Al-‘aqliyyuun yakin bahwa esensi manusia adalah “keberpikirannya”. Bagi mereka semakin sempurna seorang manusia, semakin sempurna pula pemikirannya. Karena itu insan kamil (manusia sempurna) menurut pandangan ini adalah orang yang paling sempurna nalarnya, dalam arti telah menyingkap rahasia wujud (keberadaan) sebagaimana kenyataannya.
Tafakkur, -dalam pengertian rasionalnya-, merupakan satu aktifitas utama yang menghantarkan manusia mencapai tujuannya. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulil – albaab. (Yaitu) orang-ornag yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi : ` Yaa Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali ‘Imran 190-191).
Di sisi lain, para ‘urafa, meyakini bahwa esensi manusia adalah al-qalb (hati). Dalam pandangan ini ihsas(rasa) dan ‘isyq (Cinta) manusia mempunyai nilai lebih dibanding tafakkur – nya. Perlu dicatat di sini bahwa ‘isyq bukanlah dalam arti cinta seksual seperti cinta pada umumnya. Ada dua ciri ‘isyq menurut para ‘urafa ;
1. Cinta ini bergerak menuju kepada Allah. Ma’syuq (obyek yang dicintai)-nya hanyalah Allah SWT.
2. Cinta ini mengalir pada semua yang maujud; bintang, bulan, matahari dan yang ada di sekalian alam.
Dalam pandangan ini, seluruh keharmonisan alam adalah tanda aliran ‘isyq(Cinta) dalam segala sesuatu.
Bulan dan matahari
Langit dan bumi
Semuanya berputar-putar
Sedang Sang Penyanyi bergeletar
Bulan dan matahari
Langit dan bumi
Semuanya bak berpelukan
Bercumbu dan mencumbu Tuhan semata
Belum lagi ujung rumput nan ber-embun-an
Menambah sejuk segar hawa pagi nan ber-segar-an
Sepoi angin semilir rancak nan bertiupan
Ia pun mengatakan mari kita mencumbu Tuhan
Dalam semua adalah cinta
Meresapi semua adalah cinta
Tapi cinta pada Tuhan semata
Semua mencinta Tuhan semata
Walau mencumbu tapi tak perlu merayu
Walau mencumbu tapi tak perlu memeluk
Cukup katakan pada-Nya Duhai Sang Ayu
Sampai membanjir airmata meninggalkan ceruk
Hati (al-qalb) adalah sentral Cinta. Maka bagaimana agar manusia mencapai insan kamil ? Para ‘urafa yakin bahwa dengan akal (baca; nalar), manusia tidak akan pernah mencapai kesempurnaan yang hakiki. Maulana Jalaluddin Rumi mengatakan;
Kaki para filosof terbuat dari kayu
Kaki yang terbuat dari kayu tidaklah berkekuatan sedikitpun
Sebaliknya para ‘urafa meyakini adanya kitab’azali yang terdapat dalam diri setiap orang. Kitab Agung tempat khazanah pengetahuan Tuhan. Yaitu; hati. Tuhan tidak akan pernah dapat ditampung bimi dan langit, tapi Tuhan dapat ditampung (baca; hadir) pada hati mukmin.Dengan membersihkan hati (tazkiyyatun-nafs) dan mengkonsentrasikan hati serta mengarahkannya hanya kepada Allah, maka seseorang akan dapat mencapai derajat insan kamil.
Dalam kitab sufi tidak terdapat tulisan dan kata,
Yang ada hanya hati putih bak salju
Karena tulisan dan kata hanyalah rerantingan
Sedang Wujud yang dirasa adalah akar
Dan tulisan dan kata hanyalah kekhayalan
Seang rasakanlah Ia yang lebih dekat dari urat leher
Dalam hati sufi tidak terdapat berbagai pengetahuan
Yang ada hanya lah Ia sendiri
Qur’an Suci mengatakan; Beruntunglah mereka yang telah membersihkan dirinya (QS Asy-Syams 9).
Di sisi lain Qur’an Suci mengatakan ; Sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan saling berwasiat tentang kebenaran, dan saling berwasiat tentang kesabaran. Jelas amal shalih apapun tanpa iman adalah seperti seorang gadis tanpa ruh. Walaupun secantik apapun hanyalah mayat. Sebaliknya iman tanpa amal shalih pun mustahil, seperti adanya aliran elektron tanpa arus listrik.
Iman (+amal shalih), akal dan cinta adalah tiga ekivalensi tapi mempunyai dimensi masing-masing. Tidak mungkin beriman terhadap sesuatu yang tidak masuk akal. Tidak mungkin mencintai sesuatu yang tidak diimani wujud-nya. Dan tidak mungkin akal kita dapat berkonsentrasi terus menerus untuk menyingkap rahasia Wujud Yang Maha Agung tanpa dorongan dari geletar ‘isyq yang ada dalam dada.
Apa kesimpulannya? Ketiganya hanyalah manifestasi dari satu hal yang sama. Tiadanya yang satu memustikan ketiadaan yang lain. Hanya saja dimensi kehidupan tak berhingga . Mana kala kita pandang dari sudut nalar, akal-lah namanya. Manakala kita pandang dari sudut hati, cinta-lah namanya dan manakala kita pandang dari sudut keyakinan, iman-lah namanya.
Dengan ketiganya, – atau mungkin lebih tepat lagi dengan segenap wujud nya-, seorang manusia dapt mendekatkan diri kepada Allah. Ketika seseorang sampai pada pintu keselamatan, tidak ada lagi hijab antara ia dengan allah. Dia dapat melihat Allah dengan mata hatinya. Baginya Tuhan benar-benar dapat disifati sebagai Azh-Zhaahir ( Yang Maha Lahir), atau bahkan An-Nuur (Cahaya (Mutlak)), sehingga tak ada suatu apa pun yang lebih jelas dari-Nya. Imam Husein bin ‘Ali (r.a.), -cucu Rasulullah (SAW) yang akan menjadi satu dari pemimpin para pemuda di surga-, mengatakan; “ Adakah maujud yang lebih jelas dan terang dari-Mu?”
Tafakkur, -dalam pengertian rasionalnya-, merupakan satu aktifitas utama yang menghantarkan manusia mencapai tujuannya. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulil – albaab. (Yaitu) orang-ornag yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi : ` Yaa Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali ‘Imran 190-191).
Di sisi lain, para ‘urafa, meyakini bahwa esensi manusia adalah al-qalb (hati). Dalam pandangan ini ihsas(rasa) dan ‘isyq (Cinta) manusia mempunyai nilai lebih dibanding tafakkur – nya. Perlu dicatat di sini bahwa ‘isyq bukanlah dalam arti cinta seksual seperti cinta pada umumnya. Ada dua ciri ‘isyq menurut para ‘urafa ;
1. Cinta ini bergerak menuju kepada Allah. Ma’syuq (obyek yang dicintai)-nya hanyalah Allah SWT.
2. Cinta ini mengalir pada semua yang maujud; bintang, bulan, matahari dan yang ada di sekalian alam.
Dalam pandangan ini, seluruh keharmonisan alam adalah tanda aliran ‘isyq(Cinta) dalam segala sesuatu.
Bulan dan matahari
Langit dan bumi
Semuanya berputar-putar
Sedang Sang Penyanyi bergeletar
Bulan dan matahari
Langit dan bumi
Semuanya bak berpelukan
Bercumbu dan mencumbu Tuhan semata
Belum lagi ujung rumput nan ber-embun-an
Menambah sejuk segar hawa pagi nan ber-segar-an
Sepoi angin semilir rancak nan bertiupan
Ia pun mengatakan mari kita mencumbu Tuhan
Dalam semua adalah cinta
Meresapi semua adalah cinta
Tapi cinta pada Tuhan semata
Semua mencinta Tuhan semata
Walau mencumbu tapi tak perlu merayu
Walau mencumbu tapi tak perlu memeluk
Cukup katakan pada-Nya Duhai Sang Ayu
Sampai membanjir airmata meninggalkan ceruk
Hati (al-qalb) adalah sentral Cinta. Maka bagaimana agar manusia mencapai insan kamil ? Para ‘urafa yakin bahwa dengan akal (baca; nalar), manusia tidak akan pernah mencapai kesempurnaan yang hakiki. Maulana Jalaluddin Rumi mengatakan;
Kaki para filosof terbuat dari kayu
Kaki yang terbuat dari kayu tidaklah berkekuatan sedikitpun
Sebaliknya para ‘urafa meyakini adanya kitab’azali yang terdapat dalam diri setiap orang. Kitab Agung tempat khazanah pengetahuan Tuhan. Yaitu; hati. Tuhan tidak akan pernah dapat ditampung bimi dan langit, tapi Tuhan dapat ditampung (baca; hadir) pada hati mukmin.Dengan membersihkan hati (tazkiyyatun-nafs) dan mengkonsentrasikan hati serta mengarahkannya hanya kepada Allah, maka seseorang akan dapat mencapai derajat insan kamil.
Dalam kitab sufi tidak terdapat tulisan dan kata,
Yang ada hanya hati putih bak salju
Karena tulisan dan kata hanyalah rerantingan
Sedang Wujud yang dirasa adalah akar
Dan tulisan dan kata hanyalah kekhayalan
Seang rasakanlah Ia yang lebih dekat dari urat leher
Dalam hati sufi tidak terdapat berbagai pengetahuan
Yang ada hanya lah Ia sendiri
Qur’an Suci mengatakan; Beruntunglah mereka yang telah membersihkan dirinya (QS Asy-Syams 9).
Di sisi lain Qur’an Suci mengatakan ; Sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan saling berwasiat tentang kebenaran, dan saling berwasiat tentang kesabaran. Jelas amal shalih apapun tanpa iman adalah seperti seorang gadis tanpa ruh. Walaupun secantik apapun hanyalah mayat. Sebaliknya iman tanpa amal shalih pun mustahil, seperti adanya aliran elektron tanpa arus listrik.
Iman (+amal shalih), akal dan cinta adalah tiga ekivalensi tapi mempunyai dimensi masing-masing. Tidak mungkin beriman terhadap sesuatu yang tidak masuk akal. Tidak mungkin mencintai sesuatu yang tidak diimani wujud-nya. Dan tidak mungkin akal kita dapat berkonsentrasi terus menerus untuk menyingkap rahasia Wujud Yang Maha Agung tanpa dorongan dari geletar ‘isyq yang ada dalam dada.
Apa kesimpulannya? Ketiganya hanyalah manifestasi dari satu hal yang sama. Tiadanya yang satu memustikan ketiadaan yang lain. Hanya saja dimensi kehidupan tak berhingga . Mana kala kita pandang dari sudut nalar, akal-lah namanya. Manakala kita pandang dari sudut hati, cinta-lah namanya dan manakala kita pandang dari sudut keyakinan, iman-lah namanya.
Dengan ketiganya, – atau mungkin lebih tepat lagi dengan segenap wujud nya-, seorang manusia dapt mendekatkan diri kepada Allah. Ketika seseorang sampai pada pintu keselamatan, tidak ada lagi hijab antara ia dengan allah. Dia dapat melihat Allah dengan mata hatinya. Baginya Tuhan benar-benar dapat disifati sebagai Azh-Zhaahir ( Yang Maha Lahir), atau bahkan An-Nuur (Cahaya (Mutlak)), sehingga tak ada suatu apa pun yang lebih jelas dari-Nya. Imam Husein bin ‘Ali (r.a.), -cucu Rasulullah (SAW) yang akan menjadi satu dari pemimpin para pemuda di surga-, mengatakan; “ Adakah maujud yang lebih jelas dan terang dari-Mu?”
AKHIR DARI REVOLUSI POLITIK -- AWAL DARI REVOLUSI SOSIAL
Akhir dari revolusi
Seiring dengan berakhirnya Pemilu dan telah terpilihnya presiden yang baru beserta seluruh kabinetnya, tampaknya revolusi demokratik di Indonesia sudah selesai (walaupun pada kenyataannya belum tuntas). Walaupun masih ada seruan-seruan untuk membentuk pemerintahan transisi (oleh siapa?), semua kekuatan-keuatan demokratis yang besar selama ini hanya mempersiapkan dirinya untuk memenangkan Pemilu dan berbagai permainan politik lainnya didalam sistem, bukannya untuk aksi-aksi revolusioner. Beratus-ratus demonstrasi (yang menurut media 'hanya' dianggap sebagai milik mahasiswa) di jalanan walaupun semilitan dan seberapa banyak dedikasinya bagi rakyat, tidak dapat lagi menjadi sebuah ancaman bagi konsensus dari para elit-elit politik. Mereka masih dapat berperan sebagai kelompok-kelompok penekan dalam masa pemerintahan baru saat ini, tetapi akan berat untuk menjadikan diri mereka sebagai sebuah kekuatan yang revolusioner.
Bagi figur-figur liberal dari kaum elit politik, revolusi politik di Indonesia tampaknya sukses. Suharto telah ditumbangkan, banyak tapol/napol dibebaskan, pers diberi kebebasan dan sudah terselenggara Pemilu dengan sistem multi-partai dimana partai-partai oposisi dapat membangun kekuatannya sendiri. Tetapi pada kenyataannya, demokrasi di Indonesia tetap saja masih meninggalkan banyak problem yang belum terselesaikan, antara lain dengan malahan meneruskan berlakunya dwifungsi TNI, walaupun para demokrat-demokrat moderat berkata dengan sinis bahwa hal itu akan diselesaikan seiring dengan berjalannya waktu melalui proses-proses parlementer.
Jadi kalian telah mendapatkan sistem yang demokratis -- apakah kalian puas?
Jadi apakah sudah tiba waktu bagi para aktifis untuk kembali pulang ke rumah masing-masing dan menyerahkan semua urusan politik pada para politikus? Bagi mereka yang tidak menjadi bagian dari elit politik-ekonomi dan militer, demokrasi baru ini tampaknya hanya menjadi sebuah lelucon yang buruk. Kalian telah mendapat kebebasan dalam memilih partai favorit kalian sendiri, tetapi tetap tidak ada kata bebas untuk berkata hal-hal yang sebenarnya. Kalian tetap dapat berkata apapun yang kalian inginkan (selama hal itu bukan 'komunis'), tetapi tak akan ada yang mau mendengarkan kalian karena media massa tetap ada dibawah kontrol kaum elit politik. Kalian dapat melakukan demonstrasi dan aksi-aksi protes (selama hal itu dianggap masih sesuai dengan hukum yang berlaku atau militer tetap akan turun tangan dengan seenaknya), tetapi tak akan ada yang akan memperhatikan. Dan walaupun sudah terjadi begini banyak kebebasan baru, tetapi buruh masih harus menjadi budak bagi para boss mereka, petani masih harus menghamba pada tuan-tuan tanah, dan sementara itu kebanyakan massa rakyat juga masih mengalami kesulitan dalam mendapatkan barang-barang bagi kebutuhan-kebutuhan pokoknya. Selamat datang dalam 'indahnya dunia kebebasan' dari kapitalisme modern!
Menghadapi demokrasi yang sesungguhnya
Bagi banyak aktifis, sudah sangat jelas mengenai bagaimana omong-kosongnya sistem parlementer liberal. Parlementerisme hanyalah sebuah sistem dimana sedikit orang mengatur hidup banyak orang, yang dengan demikian berarti juga bahwa hal tersebut bertentangan dengan bentuk demokrasi yang sesungguhnya.
Di banyak negeri di dunia ini, banyak contoh-contoh pergerakan rakyat yang mempraktekan bentuk-bentuk demokrasi partisipasi langsung. Contoh yang bagus dari hal ini dapat dilihat pada bentuk demokrasi yang diterapkan oleh kaum Zapatista di daerah Chiapas, Meksiko. Dalam komunitas di Chiapas ini, rakyat penduduk daerah tersebut membentuk sistem demokrasi yang sangat mendasar dimana semua keputusan diambil oleh wakil-wakil rakyat yang sesungguhnya dari desa-desa dan beberapa kota. Pergerakan dari demokrasi langsung ini telah membuang segala bentuk penguasaan negara dalam area yang luas, mengambil alih lahan pertanian dari para tuan-tuan tanah dan membentuk perserikatan petani. Secara bersama-sama, komunitas tersebut juga membentuk FZLN (Front Kemerdekaan Nasional Zapatista) dan juga milisi-milisi gerilya Zapatista yang bergerak dibawah komando rakyat.
Pergerakan Zapatista tidak hanya menjadi sebuah pengalaman, tetapi juga merupakan salah satu contoh nyata bagi sejarah pergerakan dunia tentang bagaimana di salah satu daerah yang termiskin di dunia ini para petani dan buruh bergerak untuk membentuk struktur-struktur demokrasi yang dimapankan dengan tradisi-tradisi asli dimana semua orang mempunyai hak atas keputusan yang diambil oleh komunitasnya. Dalam revolusi Russia pada tahun 1917, para perserikatan buruh tani (soviet) dan komite-komite pabrik merupakan organ-organ yang serupa dengan sistem demokrasi yang dilakukan oleh Zapatista, walaupun hal itu hanya bertahan sebentar hingga munculnya kekuasaan partai Bolshevik yang menindas habis semua pergerakan demokratis rakyat dan membuat soviet-soviet tersebut sebagai alat peraih kekuasaan bagi pemerintah dan partai yang berkuasa. Di Spanyol pada tahun 1936, kudeta kaum fasis malah membangkitkan kaum buruh dan tani untuk membentuk komite-komite dan dewan-dewan rakyat di setiap kehidupan bertetangga, di desa-desa dan di kota-kota, kaum buruh mengambil alih pabrik-pabrik dimana mereka bekerja dan para petani mengmbil alih tanah dari para tuan tanah untuk selanjutnya mereka jalankan dengan sistem kolektif atas inisiatif mereka sendiri dan diluar kontrol pemerintah dan negara. Pergerakan ini secara ironis kemudian malah dihancurkan oleh pemerintahan liberal sayap kiri pada awalnya dan pada akhirnya dihancurkan pula oleh pemerintahan fasis dibawah komando jendral Franco. Pengalaman-pengalaman serupa dari struktur demokrasi langsung juga dapat ditemukan di Italia pada tahun 1920, Hongaria tahun 1956, Perancis tahun 1968, dan sebagainya.
Self-manajemen popular
Pengalaman-pengalaman diatas tadi biasa disebut sebagai self-manajemen (pemerintahan sendiri). Hal ini berarti sebuah tatanan masyarakat dimana rakyat memegang kuasa penuh atas hidupnya dan tidak menyerahkannya kepada para penguasa --parlementer dan kaum kapitalis militeristik. Pemerintahan sendiri oleh rakyat adalah sebuah sistem desentralisasi dalam membuat keputusan-keputusan. Unit-unit kelompok kerja lokal dalam sistem demokrasi langsung ini secara alamiah akan menghasilkan konfederasi-konfederasi atas kebutuhannya untuk berko-operatif. Semua representasi dan fungsi-fungsi dalam tatanan masyarakat self-manajemen ini diputuskan oleh rakyat melalui wakil mereka (yang mereka pilih secara langsung) dan dapat ditarik kapanpun bila rakyat merasa tidak puas atas segala hasil keputusannya serta dapat langsung digantikan dengan keputusan baru. Self-manajemen popular ini didasari oleh asosiasi suka-rela, bukan paksaan, dan bagi individual dan komunitas diberikan kebebasan seluas-luasnya sejauh hal itu tidak menghalangi kebebasan bagi yang lain. Bentuk demokrasi popular ini secara fundamental melawan segala bentuk dominasi dan penguasaan. Di saat kaum kelas proletar telah merealisasikan hal ini, dengan kata lain dapat dibilang bahwa mereka selain telah menghapuskan kekuasaan politik dari kaum elit politik, mereka juga mengambil alih penguasaan di bidang ekonomi dari kaum elit untuk kemudain dijalankan dengan sistem self-manajemen dari para pekerja.
Dari revolusi politik menuju revolusi sosial
Pergerakan radikal di Indonesia sejauh ini kebanyakan hanya berupa salah satu upaya bagi revolusi politik, dalam usahanya mencari bentuk pemerintahan baru dengan cara yang demokratis. Bagaimanapun juga, mencari kekuatan bagi pemerintahan baru pada dasarnya hanya akan memperpanjang sistem hirarki hanya dalam bentuknya yang lain. Jika kita benar-benar menginginkan untuk mengambil kekuasaan dari para elit politik untuk selanjutnya diserahkan kepada rakyat, kita harus menuju kepada penghapusan kekuasaan negara dan mendistribusikan kekuatan tersebut bagi rakyat agar mereka dapat mengatur hidup mereka sendiri.
Sudah jelas sekali bahwa dalam menginginkan sebuah perubahan yang nyata, revolusi sosial, kita membutuhkan sebuah pergerakan yang meluas dan berbasiskan massa rakyat. Disini dibutuhkan berbagai pendidikan politik bagi rakyat dan memapankan berbagai strategi dan taktik serta teori-teori yang komunikatif dan kritis, tidak hanya komunikasi yang bersifat searah. Sistem demokrasi langsung harus segera dibentuk diantara para aktifis dan organisasi-organsisasi kerakyatan. Pergerakan harus diarahkan pada sistem self-manajemen yang memperjuangkan hak-hak rakyat banyak, serta harus terus dijalankan pembentukan organisasi-organisasi rakyat secara khususnya lagi untuk membentuk organisasi-organisasi serta serikat bagi kaum buruh dan tani serta elemen rakyat tertindas lainnya sebagai bagian dari proses untuk terjadinya sebuah revolusi.
Seiring dengan berakhirnya Pemilu dan telah terpilihnya presiden yang baru beserta seluruh kabinetnya, tampaknya revolusi demokratik di Indonesia sudah selesai (walaupun pada kenyataannya belum tuntas). Walaupun masih ada seruan-seruan untuk membentuk pemerintahan transisi (oleh siapa?), semua kekuatan-keuatan demokratis yang besar selama ini hanya mempersiapkan dirinya untuk memenangkan Pemilu dan berbagai permainan politik lainnya didalam sistem, bukannya untuk aksi-aksi revolusioner. Beratus-ratus demonstrasi (yang menurut media 'hanya' dianggap sebagai milik mahasiswa) di jalanan walaupun semilitan dan seberapa banyak dedikasinya bagi rakyat, tidak dapat lagi menjadi sebuah ancaman bagi konsensus dari para elit-elit politik. Mereka masih dapat berperan sebagai kelompok-kelompok penekan dalam masa pemerintahan baru saat ini, tetapi akan berat untuk menjadikan diri mereka sebagai sebuah kekuatan yang revolusioner.
Bagi figur-figur liberal dari kaum elit politik, revolusi politik di Indonesia tampaknya sukses. Suharto telah ditumbangkan, banyak tapol/napol dibebaskan, pers diberi kebebasan dan sudah terselenggara Pemilu dengan sistem multi-partai dimana partai-partai oposisi dapat membangun kekuatannya sendiri. Tetapi pada kenyataannya, demokrasi di Indonesia tetap saja masih meninggalkan banyak problem yang belum terselesaikan, antara lain dengan malahan meneruskan berlakunya dwifungsi TNI, walaupun para demokrat-demokrat moderat berkata dengan sinis bahwa hal itu akan diselesaikan seiring dengan berjalannya waktu melalui proses-proses parlementer.
Jadi kalian telah mendapatkan sistem yang demokratis -- apakah kalian puas?
Jadi apakah sudah tiba waktu bagi para aktifis untuk kembali pulang ke rumah masing-masing dan menyerahkan semua urusan politik pada para politikus? Bagi mereka yang tidak menjadi bagian dari elit politik-ekonomi dan militer, demokrasi baru ini tampaknya hanya menjadi sebuah lelucon yang buruk. Kalian telah mendapat kebebasan dalam memilih partai favorit kalian sendiri, tetapi tetap tidak ada kata bebas untuk berkata hal-hal yang sebenarnya. Kalian tetap dapat berkata apapun yang kalian inginkan (selama hal itu bukan 'komunis'), tetapi tak akan ada yang mau mendengarkan kalian karena media massa tetap ada dibawah kontrol kaum elit politik. Kalian dapat melakukan demonstrasi dan aksi-aksi protes (selama hal itu dianggap masih sesuai dengan hukum yang berlaku atau militer tetap akan turun tangan dengan seenaknya), tetapi tak akan ada yang akan memperhatikan. Dan walaupun sudah terjadi begini banyak kebebasan baru, tetapi buruh masih harus menjadi budak bagi para boss mereka, petani masih harus menghamba pada tuan-tuan tanah, dan sementara itu kebanyakan massa rakyat juga masih mengalami kesulitan dalam mendapatkan barang-barang bagi kebutuhan-kebutuhan pokoknya. Selamat datang dalam 'indahnya dunia kebebasan' dari kapitalisme modern!
Menghadapi demokrasi yang sesungguhnya
Bagi banyak aktifis, sudah sangat jelas mengenai bagaimana omong-kosongnya sistem parlementer liberal. Parlementerisme hanyalah sebuah sistem dimana sedikit orang mengatur hidup banyak orang, yang dengan demikian berarti juga bahwa hal tersebut bertentangan dengan bentuk demokrasi yang sesungguhnya.
Di banyak negeri di dunia ini, banyak contoh-contoh pergerakan rakyat yang mempraktekan bentuk-bentuk demokrasi partisipasi langsung. Contoh yang bagus dari hal ini dapat dilihat pada bentuk demokrasi yang diterapkan oleh kaum Zapatista di daerah Chiapas, Meksiko. Dalam komunitas di Chiapas ini, rakyat penduduk daerah tersebut membentuk sistem demokrasi yang sangat mendasar dimana semua keputusan diambil oleh wakil-wakil rakyat yang sesungguhnya dari desa-desa dan beberapa kota. Pergerakan dari demokrasi langsung ini telah membuang segala bentuk penguasaan negara dalam area yang luas, mengambil alih lahan pertanian dari para tuan-tuan tanah dan membentuk perserikatan petani. Secara bersama-sama, komunitas tersebut juga membentuk FZLN (Front Kemerdekaan Nasional Zapatista) dan juga milisi-milisi gerilya Zapatista yang bergerak dibawah komando rakyat.
Pergerakan Zapatista tidak hanya menjadi sebuah pengalaman, tetapi juga merupakan salah satu contoh nyata bagi sejarah pergerakan dunia tentang bagaimana di salah satu daerah yang termiskin di dunia ini para petani dan buruh bergerak untuk membentuk struktur-struktur demokrasi yang dimapankan dengan tradisi-tradisi asli dimana semua orang mempunyai hak atas keputusan yang diambil oleh komunitasnya. Dalam revolusi Russia pada tahun 1917, para perserikatan buruh tani (soviet) dan komite-komite pabrik merupakan organ-organ yang serupa dengan sistem demokrasi yang dilakukan oleh Zapatista, walaupun hal itu hanya bertahan sebentar hingga munculnya kekuasaan partai Bolshevik yang menindas habis semua pergerakan demokratis rakyat dan membuat soviet-soviet tersebut sebagai alat peraih kekuasaan bagi pemerintah dan partai yang berkuasa. Di Spanyol pada tahun 1936, kudeta kaum fasis malah membangkitkan kaum buruh dan tani untuk membentuk komite-komite dan dewan-dewan rakyat di setiap kehidupan bertetangga, di desa-desa dan di kota-kota, kaum buruh mengambil alih pabrik-pabrik dimana mereka bekerja dan para petani mengmbil alih tanah dari para tuan tanah untuk selanjutnya mereka jalankan dengan sistem kolektif atas inisiatif mereka sendiri dan diluar kontrol pemerintah dan negara. Pergerakan ini secara ironis kemudian malah dihancurkan oleh pemerintahan liberal sayap kiri pada awalnya dan pada akhirnya dihancurkan pula oleh pemerintahan fasis dibawah komando jendral Franco. Pengalaman-pengalaman serupa dari struktur demokrasi langsung juga dapat ditemukan di Italia pada tahun 1920, Hongaria tahun 1956, Perancis tahun 1968, dan sebagainya.
Self-manajemen popular
Pengalaman-pengalaman diatas tadi biasa disebut sebagai self-manajemen (pemerintahan sendiri). Hal ini berarti sebuah tatanan masyarakat dimana rakyat memegang kuasa penuh atas hidupnya dan tidak menyerahkannya kepada para penguasa --parlementer dan kaum kapitalis militeristik. Pemerintahan sendiri oleh rakyat adalah sebuah sistem desentralisasi dalam membuat keputusan-keputusan. Unit-unit kelompok kerja lokal dalam sistem demokrasi langsung ini secara alamiah akan menghasilkan konfederasi-konfederasi atas kebutuhannya untuk berko-operatif. Semua representasi dan fungsi-fungsi dalam tatanan masyarakat self-manajemen ini diputuskan oleh rakyat melalui wakil mereka (yang mereka pilih secara langsung) dan dapat ditarik kapanpun bila rakyat merasa tidak puas atas segala hasil keputusannya serta dapat langsung digantikan dengan keputusan baru. Self-manajemen popular ini didasari oleh asosiasi suka-rela, bukan paksaan, dan bagi individual dan komunitas diberikan kebebasan seluas-luasnya sejauh hal itu tidak menghalangi kebebasan bagi yang lain. Bentuk demokrasi popular ini secara fundamental melawan segala bentuk dominasi dan penguasaan. Di saat kaum kelas proletar telah merealisasikan hal ini, dengan kata lain dapat dibilang bahwa mereka selain telah menghapuskan kekuasaan politik dari kaum elit politik, mereka juga mengambil alih penguasaan di bidang ekonomi dari kaum elit untuk kemudain dijalankan dengan sistem self-manajemen dari para pekerja.
Dari revolusi politik menuju revolusi sosial
Pergerakan radikal di Indonesia sejauh ini kebanyakan hanya berupa salah satu upaya bagi revolusi politik, dalam usahanya mencari bentuk pemerintahan baru dengan cara yang demokratis. Bagaimanapun juga, mencari kekuatan bagi pemerintahan baru pada dasarnya hanya akan memperpanjang sistem hirarki hanya dalam bentuknya yang lain. Jika kita benar-benar menginginkan untuk mengambil kekuasaan dari para elit politik untuk selanjutnya diserahkan kepada rakyat, kita harus menuju kepada penghapusan kekuasaan negara dan mendistribusikan kekuatan tersebut bagi rakyat agar mereka dapat mengatur hidup mereka sendiri.
Sudah jelas sekali bahwa dalam menginginkan sebuah perubahan yang nyata, revolusi sosial, kita membutuhkan sebuah pergerakan yang meluas dan berbasiskan massa rakyat. Disini dibutuhkan berbagai pendidikan politik bagi rakyat dan memapankan berbagai strategi dan taktik serta teori-teori yang komunikatif dan kritis, tidak hanya komunikasi yang bersifat searah. Sistem demokrasi langsung harus segera dibentuk diantara para aktifis dan organisasi-organsisasi kerakyatan. Pergerakan harus diarahkan pada sistem self-manajemen yang memperjuangkan hak-hak rakyat banyak, serta harus terus dijalankan pembentukan organisasi-organisasi rakyat secara khususnya lagi untuk membentuk organisasi-organisasi serta serikat bagi kaum buruh dan tani serta elemen rakyat tertindas lainnya sebagai bagian dari proses untuk terjadinya sebuah revolusi.
alasan jatuh cintah
Yakin dech, bahkan berani tarohan kalo' cinta ngga' pernah pandang strata, bahkan kita suka lupakan logika. Buat pacar, sahabat dan kerabat dekat, cinta itu putih. Kita ngga' bisa menggunakan angka-angka untuk urusan hati. Pahit, manis, asem, asin, semua terasa legit di lidah, kalo' sudah berurusan dengan yang namanya cinta. Pernah ngga' kamu tiba-tiba berkeringat dingin, jantung berdebar-debar, mata ngga' sanggup melihat lawan bicara, bahkan wajahpun bersemu merah, karena malu. Yup ! itu tandanya kamu sudah jatuh cinta.
" Jika cinta memanggilmu, ikutilah walau jalan berliku " Sepotong karya sastra dari Kahlil Gibran ini, mengingatkan kita bahwa semua orang didunia ngga' akan luput dari proses jatuh cinta. Semua orang akan menemukan 'N melewatinya. Potensi itu sebenarnya sudah ada sejak seseorang dilahirkan. Maka jangan heran kalo' adikmu yang masih Preschool bilang kalo' ia suka ama temannya. Hanya saja, potensi itu bakal keliatan banget saat usiamu memasuki pubertas. dalam psikologi perkembangan, masa ini dibilang sebagai masa peralihan dari kanak-kanak ke remaja. Yach ... itulah cinta, abstrak tapi dapat membuat segala sesuatu terasa lebih indah dan bermakna. Love Is Like Wind, We Cannot See It But We Can Feel It ...
Cinta pada lawan jenis. Asyiiik ! Boleh dong sekarang kita merindukan seseorang ? Berandai-andai, kapan dia datang menjemput, makan berduaan and jalan bareng. Buat kamu yang lagi jatuh hati, artikel ini cocok banget buat kamu cermati. Kita belajar bareng mengenal lebih dekat soal cinta. Kita bisa mengenali cinta, mendeteksi dari mana asalnya, bagaimana menyatakannya, sampai di mana tempat yang paling tepat buat nyatain cinta. Cinta boleh milik siapa aja, kapan aja dan dimana aja. Kalo' dipikir-pikir aneh ya. Kenapa sih kita manusia, bisa jatuh cinta. Ada bermacam-macam alasan. So' Keep On Going ... *Denita
" Jika cinta memanggilmu, ikutilah walau jalan berliku " Sepotong karya sastra dari Kahlil Gibran ini, mengingatkan kita bahwa semua orang didunia ngga' akan luput dari proses jatuh cinta. Semua orang akan menemukan 'N melewatinya. Potensi itu sebenarnya sudah ada sejak seseorang dilahirkan. Maka jangan heran kalo' adikmu yang masih Preschool bilang kalo' ia suka ama temannya. Hanya saja, potensi itu bakal keliatan banget saat usiamu memasuki pubertas. dalam psikologi perkembangan, masa ini dibilang sebagai masa peralihan dari kanak-kanak ke remaja. Yach ... itulah cinta, abstrak tapi dapat membuat segala sesuatu terasa lebih indah dan bermakna. Love Is Like Wind, We Cannot See It But We Can Feel It ...
Cinta pada lawan jenis. Asyiiik ! Boleh dong sekarang kita merindukan seseorang ? Berandai-andai, kapan dia datang menjemput, makan berduaan and jalan bareng. Buat kamu yang lagi jatuh hati, artikel ini cocok banget buat kamu cermati. Kita belajar bareng mengenal lebih dekat soal cinta. Kita bisa mengenali cinta, mendeteksi dari mana asalnya, bagaimana menyatakannya, sampai di mana tempat yang paling tepat buat nyatain cinta. Cinta boleh milik siapa aja, kapan aja dan dimana aja. Kalo' dipikir-pikir aneh ya. Kenapa sih kita manusia, bisa jatuh cinta. Ada bermacam-macam alasan. So' Keep On Going ... *Denita
hal utama dalam menjalin hubungan
KASIH SAYANG adalah esensi dari cinta yang murni. Idealnya adalah keseimbangan dalam memberi dan menerima kasih sayang. Belajarlah untuk menyayangi kekasihmu seperti kamu menyayangi dirimu sendiri. Nyatakanlah kasih sayangmu padanya dengan perhatian, bersikap pengertian, bicara dengan kata-kata yang manis, menghidangkan makanan atau minuman kesukaannya, dsb. Jangan sedih dan kecewa kalo' kekasihmu tampak belum sungguh-sungguh menyayangimu. Jangan berhenti menyayanginya, karena cepat atau lambat dia akan merespon kasih sayangmu dengan kasih sayangnya yang murni.
KEPERCAYAAN adalah ungkapan cinta yang mendalam. Rasa saling percaya adalah iklim yang ideal bagi tumbuhnya benih-benih cinta. Sebaliknya, kurangnya rasa percaya merupakan hama yang bisa merusak bunga-bunga cinta dengan kesalahpahaman, kecemburuan dan kekhawatiran. Tambahkanlah terus kepercayaanmu padanya, dan berusahalah agar kepercayaannya padamu juga semakin bulat.
KETULUSAN cinta keluar dari hati nurani yang bersih. Hubungan cinta yang tulus akan ditandai dengan keterus-terangan, keterbukaan dan kejujuran. Tidak ada yang ditutup-tutupi, tidak ada kepura-puraan, tidak ada rekayasa dan tidak ada maksud-maksud terselubung. Betapa rapuhnya cinta yang terjalin tanpa ketulusan.
PERSAHABATAN adalah kebutuhan mutlak dalam suatu jalinan cinta. Cinta bukanlah cinta bila tanpa persahabatan. Sebagai sahabat yang baik, kamu akan menjadi teman bicara, teman bercanda, teman bermain, teman diskusi, teman dikala suka dan duka. Sebagai sahabat, kamu tidak akan menggurui, mengatur, mengekang dan membuatnya takut. Berusahalah untuk menjadi sahabat yang baik dan menyenangkan agar dia merasa lebih nyaman dan bahagia.
KESETIAAN mencerminkan kekuatan karakter. Mudah sekali mengucapkan janji setia, namun terkadang sulit untuk menjalaninya karena banyak sekali godaan yang bisa menggoyahkan kesetiaan. Tapi dalam keadaan apapun kesetiaan harus dijaga, sebab tidak mungkin mempertahankan keindahan cinta tanpa kesetiaan. Manusiawi sekali waktu kamu mengagumi dan menyukai orang lain yang sangat menarik, namun kesetiaan akan mencegah kamu mengkhianati kekasihmu dengan cara apapun. Kesetiaan juga akan diuji oleh situasi dan kondisi yang buruk. Kesetiaan akan memilih untuk tetap mencintainya ketika dia sakit, ketika dia tidak berdaya, atau ketika dia tidak menarik lagi secara fisik.
RASA HORMAT adalah bagian yang tak terpisahkan dari kasih sayang. Kalo' kamu saling menyayangi, maka kamu akan saling menghormati. Rasa hormat akan memagari keakraban dan keintimanmu agar tidak melanggar hak pribadi yang masih dimiliki oleh sepasang kekasih. Rasa hormat akan membuat kamu menghargai privasinya, menghargai pendapatnya, menghargai keyakinannya dan manghargai dirinya sebagai seorang pribadi yang penting. Kalo' kamu menghormati kekasihmu, kamu akan menjaga kehormatan dan harga dirinya.
KEPERCAYAAN adalah ungkapan cinta yang mendalam. Rasa saling percaya adalah iklim yang ideal bagi tumbuhnya benih-benih cinta. Sebaliknya, kurangnya rasa percaya merupakan hama yang bisa merusak bunga-bunga cinta dengan kesalahpahaman, kecemburuan dan kekhawatiran. Tambahkanlah terus kepercayaanmu padanya, dan berusahalah agar kepercayaannya padamu juga semakin bulat.
KETULUSAN cinta keluar dari hati nurani yang bersih. Hubungan cinta yang tulus akan ditandai dengan keterus-terangan, keterbukaan dan kejujuran. Tidak ada yang ditutup-tutupi, tidak ada kepura-puraan, tidak ada rekayasa dan tidak ada maksud-maksud terselubung. Betapa rapuhnya cinta yang terjalin tanpa ketulusan.
PERSAHABATAN adalah kebutuhan mutlak dalam suatu jalinan cinta. Cinta bukanlah cinta bila tanpa persahabatan. Sebagai sahabat yang baik, kamu akan menjadi teman bicara, teman bercanda, teman bermain, teman diskusi, teman dikala suka dan duka. Sebagai sahabat, kamu tidak akan menggurui, mengatur, mengekang dan membuatnya takut. Berusahalah untuk menjadi sahabat yang baik dan menyenangkan agar dia merasa lebih nyaman dan bahagia.
KESETIAAN mencerminkan kekuatan karakter. Mudah sekali mengucapkan janji setia, namun terkadang sulit untuk menjalaninya karena banyak sekali godaan yang bisa menggoyahkan kesetiaan. Tapi dalam keadaan apapun kesetiaan harus dijaga, sebab tidak mungkin mempertahankan keindahan cinta tanpa kesetiaan. Manusiawi sekali waktu kamu mengagumi dan menyukai orang lain yang sangat menarik, namun kesetiaan akan mencegah kamu mengkhianati kekasihmu dengan cara apapun. Kesetiaan juga akan diuji oleh situasi dan kondisi yang buruk. Kesetiaan akan memilih untuk tetap mencintainya ketika dia sakit, ketika dia tidak berdaya, atau ketika dia tidak menarik lagi secara fisik.
RASA HORMAT adalah bagian yang tak terpisahkan dari kasih sayang. Kalo' kamu saling menyayangi, maka kamu akan saling menghormati. Rasa hormat akan memagari keakraban dan keintimanmu agar tidak melanggar hak pribadi yang masih dimiliki oleh sepasang kekasih. Rasa hormat akan membuat kamu menghargai privasinya, menghargai pendapatnya, menghargai keyakinannya dan manghargai dirinya sebagai seorang pribadi yang penting. Kalo' kamu menghormati kekasihmu, kamu akan menjaga kehormatan dan harga dirinya.
Selasa, 01 Februari 2011
mutiara cinta
Nafsu mengatakan perempuan itu cantik atas dasar rupanya. Akal mengatakan perempuan itu cantik atas dasar ilmu dan kepintarannya. Dan hati mengatakan perempuan itu cantik atas dasar akhlaknya.
Saya percaya, esok sudah tidak boleh mengubah apa berlaku hari ini, tetapi hari ini masih boleh mengubah apa akan terjadi pada hari esok.
Memaafkan mungkin amat berat untuk diberikan kepada orang yang pernah melukai hati kita. Tetapi hanya dengan memaafkan kita akan dapat mengubati hati yang telah terluka. maaf diberi secara ikhlas umpama pisau bedah yang boleh membuang segala parut luka emosi
Kasihkan manusia lepaskan dia kepada pilihan dan keputusannya kerana di situ tanda kita gembira melihat insan kita sayangi beroleh bahagia
Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi. Dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa. Dalam kesempitan hidup ada kekuasaan ilmu.
Kita tidak dapat meneruskan hidup dengan baik jika tidak dapat melupakan kegagalan dan sakit hati di masa lalu.
Orang bijaksana tidak sesekali duduk meratapi kegagalannya, tapi dengan
lapang hati mencari jalan bagaimana memulihkan kembali kerugian yg dideritainya.
Pandanglah segala sesuatu dari kacamata oranglain. Apabila hal itu menyakitkan hatimu, sangat mungkin hal itu menyakitkan hari orang lain pula.
Jembatan menjadi penghubung antara dua buah kampung, perkahwinan menjadi penghubung antara dua insan dan anak menjadi penghubung antara ibu dan ayah
Pemimpin berjaya ialah orang yang boleh mengawal komunikasi dengan orang yang lebih atas daripadanya dan boleh mengawal komunikasi dengan orang lebih bawah daripadanya.
Agama menjadi sendi hidup, pengaruh menjadi penjaganya. Kalau tidak
bersendi, runtuhlah hidup dan kalau tidak berpenjaga, binasalah hayat.
Orang terhormat itu kehormatannya sendiri melarangnya berbuat jahat.
Sesuatu kebaikan, belum tentu benar. Sesuatu yang benar, belum tentu baik.
Sesuatu yang bagus, belum tentu berharga. Sesuatu yang berharga/berguna, belum tentu bagus.
Kawan sejati ialah orang yg mencintaimu meskipun
telah mengenalmu dengan sebenar-benarnya ia itu baik dan burukmu.
Sabar adalah jalan keluar bagi orang yang tidak bisa menemukan jalan keluar.
Jagalah dirimu baik-baik, usahakanlah kemuliaannya, kerana engkau dipandang manusia bukan kerana rupa tetapi kesempurnaan budi dan adab -Nabi SAW
Saya percaya, esok sudah tidak boleh mengubah apa berlaku hari ini, tetapi hari ini masih boleh mengubah apa akan terjadi pada hari esok.
Memaafkan mungkin amat berat untuk diberikan kepada orang yang pernah melukai hati kita. Tetapi hanya dengan memaafkan kita akan dapat mengubati hati yang telah terluka. maaf diberi secara ikhlas umpama pisau bedah yang boleh membuang segala parut luka emosi
Kasihkan manusia lepaskan dia kepada pilihan dan keputusannya kerana di situ tanda kita gembira melihat insan kita sayangi beroleh bahagia
Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi. Dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa. Dalam kesempitan hidup ada kekuasaan ilmu.
Kita tidak dapat meneruskan hidup dengan baik jika tidak dapat melupakan kegagalan dan sakit hati di masa lalu.
Orang bijaksana tidak sesekali duduk meratapi kegagalannya, tapi dengan
lapang hati mencari jalan bagaimana memulihkan kembali kerugian yg dideritainya.
Pandanglah segala sesuatu dari kacamata oranglain. Apabila hal itu menyakitkan hatimu, sangat mungkin hal itu menyakitkan hari orang lain pula.
Jembatan menjadi penghubung antara dua buah kampung, perkahwinan menjadi penghubung antara dua insan dan anak menjadi penghubung antara ibu dan ayah
Pemimpin berjaya ialah orang yang boleh mengawal komunikasi dengan orang yang lebih atas daripadanya dan boleh mengawal komunikasi dengan orang lebih bawah daripadanya.
Agama menjadi sendi hidup, pengaruh menjadi penjaganya. Kalau tidak
bersendi, runtuhlah hidup dan kalau tidak berpenjaga, binasalah hayat.
Orang terhormat itu kehormatannya sendiri melarangnya berbuat jahat.
Sesuatu kebaikan, belum tentu benar. Sesuatu yang benar, belum tentu baik.
Sesuatu yang bagus, belum tentu berharga. Sesuatu yang berharga/berguna, belum tentu bagus.
Kawan sejati ialah orang yg mencintaimu meskipun
telah mengenalmu dengan sebenar-benarnya ia itu baik dan burukmu.
Sabar adalah jalan keluar bagi orang yang tidak bisa menemukan jalan keluar.
Jagalah dirimu baik-baik, usahakanlah kemuliaannya, kerana engkau dipandang manusia bukan kerana rupa tetapi kesempurnaan budi dan adab -Nabi SAW
Langganan:
Postingan (Atom)